Jejak Ngopi Politik Khas Presiden Jokowi

  • Share
Presiden Jokowi Ngopi di areal Benteng Van Den Bosh

Sejak era Presiden Jokowi, tradisi ngopi bareng politisi atau mengunjungi warung-warung kopi sering dilakukan. Apa makna dibalik menu ngopi Presiden Jokowi tersebut?

Pada 5 November 2015 lalu, hampir satu jam Presiden Jokowi menggelar pertemuan tertutup dengan Pimpinan DPR di Istana Merdeka, Jakarta, membahas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2016.

Menurut Ketua DPR yang saat itu dijabat Setya Novanto, pertemuan tersebut untuk mencari jalan keluar‎ demi kesejahteraan masyarakat dan kepentingan rakyat.

“Kita perlu mengadakan suatu pembicaraan yang santai, sambil ngopi. Tentu ini hal-hal yang sangat penting. Kita saling mencari jalan ‎keluar untuk tentunya lebih jauh,” jelasnya.

Bukan kali itu saja, Presiden Jokowi juga pada 1 Oktober 2017, menghadiri acara ‘ngopi sore’ bersama selebriti seperti Chico Jerico, Julie Estelle, Fitri Tropika dan Nino Fernandez dan presenter Darto.

Bahkan, untuk mengingatkan Presiden Jokowi agar segera menuntaskan kasus Munir, pada 7 September 2017 para selebritis dan aktivis ‘mencuilnya’ dengan simbol ngopi.

“Ya kan Pak Jokowi suka ngopi, ini dari Filosofi kopi menyediakan kopi tanpa arsenik dan sianida (zat kimia yang digunakan untuk membunuh Munir),” kata aktivis Raisa saat ditanya alasan peringatan 13 tahun kematian Munir diberi nama Kamisan Ngopi Bareng Munir.

Safari Politik di Warung Kopi

Pada saat kampanye presiden Pemilu 2019, beberapa kali Jokowi mendatangi warung kopi. Selain rehat setelah kampanye, ia juga membahas persoalan bangsa. Termasuk bertemu dengan para relawan.

Pada 1 Februari 2019

Saat kunjungan kerja  ke Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Jokowi sengaja mendatangi kantin di areal Benteng Van Den Bosh untuk menikmati secangkir kopi.

Selain ditemani Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Gubernur Jatim Soekarwo dan Nina Kirana Soekarwo, hadir juga Bupati Ngawi Budi Sulistyono dan Ketua DPRD Kabupaten Ngawi Dwi Riyanto Sujatmiko.

Jokowi mengatakan, kopi hangat yang ia cicipi itu sangat enak. Harganya pun terjangkau. Namun, meski murah, rasa dan kualitas tak kalah dengan yang lain.

“Tadi saya mencicip ada kopi yang enak sekali. Saya lupa tadi harganya berapa, tapi saya kira murah, memang  kalau di daerah murah-murah, enak-enak. Hidangannya saya habiskan tadi,” ujarnya.

25 Maret 2019

Jokowi mencici kopi di Sentra Kuliner Sriwijaya, Malang, setelah menggelar kampanye tertutup di Gelanggang Olah Raga (GOR) Ken Arok.

Jokowi langsung memesan 4 gelas kopi. Harga satu gelasnya Rp4.000. Disana sudah hadir Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Erick Thohir, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, dan Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan.

26 Maret 2019

Saat kampanye di Kota Dumai, Riau, Jokowi ngopi di Kedai Kopi Arabika, di Jalan Sultan Hasanudin, pusat Kota Dumai.

Sekitar 300-an orang sudah menunggu disana. Mereka merupakan relawan Jokowi di Provinsi Riau. Banyak pula masyarakat sekitar yang ingin melihat Jokowi dari dekat.

Di kedai itu, Jokowi memilih kopi susu produk lokal, Vienna Kopi. Harga segelasnya Rp12.000. Mantan Gubernur DKI tersebut memuji citarasa kopi tersebut.

Ia mengatakan, rasa kopi itu tidak kalah dengan rasa kopi merek luar negeri. “Rasanya internasional, harganya sangat lokal, sampai habis diminum,” ujar Jokowi.

31 Maret 2021

Bersama tim kampanye Ketua TKN Erick Thohir, Gubernur Sulut Olly Dondokambey, dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Jokowi juga menikmati kopi di Warung Kopi Jarod, Manado, Sulawesi Utara.

Padahal saat itu, hari sudah hampir jam 10 malam. Karena suasana ramai, Jokowi hanya menyeruput kopi susu seharga Rp8.000. Bersama warga, Jokowi saa itu membahas proses pembangunan Tol Manado-Bitung.

Anggaran pembangunan mencapai Rp6 triliun. Sebagian besar berasal dari pihak swasta, pinjaman dari Tiongkok. Untuk seksi I (0-7 kilometer) Rp1,2 triliun, seksi II (7-14 kilometer) berasal dari APBN senilai Rp1,7 triliun. Sisanya sekitar 25 kilometer didanai investasi PT Jasa Marga.

Makna Dibalik Ngopi Presiden Jokowi

Menurut Hasto Suprayoogo dalam artikel yang ditulis di Kompasiana, 19 Desember 2017, pemilihan kopi sebagai minuman publik presiden bukan kebetulan belaka. Namun, ada pesan-pesan tertentu di balik aktifitas ngopi bareng itu.

1. Mencintai Produk Dalam Negeri

Presiden Jokowi ingin mentapping trend ngopi yang marak berkembang di tanah air dan mengarahkan ke nilai yang lebih besar, yaitu cinta produk dalam negeri.

Di antara begitu banyak kedai kopi, dari kelas warkop hingga waralaba internasional, Presiden sengaja memilih kedai kopi milik pengusaha lokal. Pengusaha muda pula yang menyajikan kopi produksi dalam negeri. Jelas ini sebagai bentuk keberpihakan sang presiden terhadap ekonomi lokal.

2. Kopi Menyatukan Lintas Kelompok

Pemilihan kopi sebagai minuman Presiden mengandung pesan terselubung bahwa Presiden Joko Widodo berusaha menyatukan berbagai kelompok sosial politik tertentu.

Daripada menggunakan Bahasa verbal sering ditanggapi secara negatif, Presiden menggunakan bahasa no verbal yaitu bahasa kopi.

3. Kopi Simbol Kerja Keras

Presiden Jokowi nampak ingin menunjukan etos kerja yang yang tak pandang waktu. Lihatlah berapa banyak orang Indonesia menyeruput kopi dahulu sebelum berangkat kerja, saat makan siang, waktu break sore atau bahkan saat lembur sampai tengah malam.

Etos kerja inilah yang ingin ditunjukkan Presiden, karena kopi selalu ada sebagai pendorong stamina.

4. Kopi Simbol Kesederhanaan

Lewat kopi juga, Presiden Jokowi ingin menunjukan pesan kesederhanaan. Rata-rata satu gelas kopi harganya sangat murah dan terjangkau oleh berbagai kalangan.

Kopi adalah minuman sederhana dan pesan kesederhanaan ini pula nampak ingin ditunjukan oleh presiden.

Artikel berjudul “Jejak Ngopi Politik Khas Presiden Jokowi” yang tayang di temangopi.com versi PDF nya bisa diunduh sekaligus sumbernya pada link tautan dibawah ini:

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *