Hikayat Kopi Para Sufi dan Politisi Hobi Ngopi

  • Share

Kopi tak hanya menyentuh dunia politik, lobi dan diplomasi. Ngopi juga menjadi cara para sufi menjaga kebugaran dan untuk lebih mendekatkan diri kepada Ilahi.

Jadi, kalau sekarang minum kopi atau ‘ngopi’ menjadi trend kebanyakan generasi milenial, sejatinya bisa menenangkan mereka untuk berdamai dengan kenyataan. Seperti hikayat para sufi terdahulu, dimana ngopi menjadi media untuk mendekatkan diri pada Tuhan.

Penemuan Biji Kopi di Kalangan Sufi

Biji kopi pertama kali ditemukan pada abad ke-8 Hijriah. Begitu Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Husainy Al-Hadramy Alaydrus (1070-1113 H) dalam kitabnya “Linaasush Shofwah bi Anfaasil Qohwah”.

Ia menceritakan, seorang ulama sufi terkenal, Imam Abul Hasan Ali Asy-Syadzili merupakan sosok penemu kopi pertama. Dalam riwayat lain, kopi diperbincangkan pada abad 15 Hijriah oleh Abdul Qadir al-Jaziri (lahir 1505) dalam kitabnya “Umdatus Shafa”.

Dalam kitab tersebut, kopi berasal dari tanah Ibnu Sa’duddin atau daerah Habasyah (sekarang Etiopia, Afrika). Dalam kitab itu diceritakan, ada seorang mufti besar bernama Jamaluddin Adz-Dzabhani (wafat 1470) dari Yaman sedang melakukan perjalanan ke Bar’Ajm (kawasan non Arab).

Disana ia menemukan orang-orang sedang meminum kopi. Lalu Adz-Dzabhani membawa pulang biji kopi tersebut. Ia sempat mengalami sakit setelah perjalanan itu dan menyeduh kopi sampai tubuhnya segar kembali.

Bisa dikatakan, Imam Abul Hasan Assadzili merupakan penemu biji kopi. Sedangkan Imam Abu Bakr Al-Aydrus adalah penyebar kopi di berbagai tempat.

Khasiat Minum Kopi Bagi Para Sufi

Imam Najmuddin al-Ghazziy dalam kitab Al-Kawakib As-Sairah Fi A’yan al-Miah al-A’syirah mengatakan: “Orang yang pertama kali memiliki kebiasaan minum kopi sebagai minuman berkhasiat adalah syekh Abi Bakr Bin Abdullah Al-Aydrus. Beliau membuat racikan kopi dari buah pohon Bun.”

Dalam Kitab Al-Linas bahwa huruf ‘ba’ dan ‘nun’ pada kata bunn (kopi), masing-masing berarti bidayah (permulaan) dan nihayah (puncak) yang artinya mengantarkan seseorang dari awal langkah hingga akhir/sampai sukses.

Imam Ibnu Hajar Al Haitami, ulama besar ahli fikih dan tasawuf menulis tentang kopi sebagai berikut:

“Lalu ketahuilah duhai hati yang gelisah bahwa kopi ini telah dijadikan oleh Ahli shofwah (orang orang yang bersih hatinya) sebagai pengundang akan datangnya cahaya dan rahasia Tuhan, penghapus kesusahan”.

Awalnya, kopi diminum untuk keperluan mendekatkan diri kepada Allah. Salah satu riwayat menceritakan, Abul Hasan Ali Asy-Syadzili diberi wirid dari gurunya, Syaikh Abdullah Al-Masyisyi agar melakukan wirid selama 40 hari tanpa tidur dan batal wudhu.

Sayangnya, ia selalu gagal karena ketiduran. Tidak lama saat tertidur, ia mendapatkan petunjuk untuk meminum kopi untuk mengatasi kantuk sehingga bisa membantu menyelesaikan wirid tersebut.

Atas kecintaannya terhadap kopi, Imam Abul Hasan Ali Asy-Syadzili menuliskan syair tentang kopi dengan begitu dalam.

“Wahai orang-orang yang asyik dalam cinta sejati denganNya, kopi membantuku mengusir kantuk. Dengan pertolongan Allah Ta’ala, kopi menggiatkanku taat beribadah kepadaNya di kala orang-orang sedang terlelap.”

Makna Qohwah Sampai Populer Jadi Kopi

Asy-Syadzili mempopulerkan nama Qahwah (kopi). ‘Qof’ bermakna quut (makanan), ‘Ha’ bermakna hudaa (petunjuk), ‘Wawu’ bermakna wud (cinta), dan ‘Ha’ bermakna hiyam (kantuk).

‘Qahwah’ dalam bahasa Arab bermakna kekuatan. Setelah banyak orang mengetahui khasiat kopi, terlebih aromanya yang khas, orang-orang di tanah Arab mulai membuka warung-warung kopi sampai penyebarannya meluas ke Eropa melalui Turki, hingga Belanda.

Bagi orang-orang Turki, Qahwah kemudian disebut dengan istilah “Kahfeh”. Setelah menyebar ke Belanda, penyebutannya berubah menjadi “Koffie”. Nama koffie inilah diserap masyarakat Indonesia setelah penjajahan Belanda.

Riwayat Kopi ke Indonesia

Kopi Arabica adalah jenis kopi pertama yang dibawa Belanda dan ditanam di Indonesia pada 1696. Dari jawa, pulau pertama yang ditanami kopi adalah Indonesia (saat itu masih Hindia Belanda) dapat mengekspor empat kuintal kopi ke Amsterdam.

Kopi Indonesia memiliki aroma dan rasa sangat beragam. Bayangkan saja! Di setiap wilayah penghasil kopi, aroma dan rasa biji kopi yang dihasilkan berbeda-beda.

Lalu, mengapa banyak politisi Indonesia doyan ngopi, meskipun Indonesia bukan berada di urutan nomor wahid sebagai penghasil kopi terbesar di dunia?

Merujuk data dari International Coffee Organization (ICO) tahun 2020, Indonesia memproduksi 11,185 juta masih kalah dibandingkan Brazil, Vietnam dan Kolombia.

Bahkan, pada masa Presiden Jokowi, ngopi sudah menjadi tradisi. Baik untuk menjamu tamu negara maupun berdiskusi dengan para politisi saat di undang ke Istana.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *