4 Kriteria Caleg, Apakah Anda Salah Satunya?

  • Share
Foto : Pixabay

Jika Anda ditanya apakah mau menjadi anggota legislatif (caleg) pada 2024? Siapa yang tidak mau bukan? Tapi sebelum menjawab, kening Anda sudah berkerut. Dalam benak Anda yang terpikir duluan adalah bongkahan uang yang harus dipersiapkan. Padahal, hem… coba baca dulu sampai ke bawah.

Memang fakta sich. Sudah berapa pemilu lamanya, uang teramat dituhankan dalam politik. Ada istilah tidak ada makan siang gratis dalam politik. Ngeri kan?

Tulisan ini diperuntukan bagi Anda yang sungguh-sungguh ingin menjadi caleg. Tak peduli dompet Anda tak sebanding dengan ruang dan tempat.

Tak peduli Anda tak mampu membayar semua tahapan pemilu jika semuanya menggunakan uang berlambang Seokarno Hatta atau pahlawan nasional I Gusti Ngurah Rai.

Saya berharap, tulisan ini ada faedahnya. Termasuk bagi Anda caleg berduit. Setidaknya jumlah suara yang dihasilkan sesuai dengan uang yang dikeluarkan. Minimal tidak tekor atau syukur-syukur balik modal.

4 Kriteria Caleg

Sebelum membahas menu utama resep menjadi caleg, Ada baiknya Anda tahu kriteria caleg yang ada selama ini. Hal ini merujuk pengalaman saya mengamati, mengikuti dan terlibat langsung melakukan asistensi pada Pemilu Lelgsilatif 2019.

1. Caleg berambisi tak punya nyali

Menurut KKBI, ambisi adalah keinginan (hasrat, nafsu) yang besar untuk mencapai sesuatu seperti pangkat dan kedudukan. Sementara, nyali adalah keberanian besar untuk menjadi memperoleh sesuatu.

Untuk caleg kriteria pertama kira-kira seperti ini. Dia memiliki nafsu besar tapi tenaga kurang. Besar keinginan tapi kecil keberanian. Tak siap dengan resiko.

Jadi, jangan harap tipe seperti ini bisa menemui banyak orang di daerah pemilihan. Atau setidaknya mau belajar memantaskan diri dulu sebagai menjadi bakal calon legislatif.

Caleg seperti ini kadang bisa berbahaya. Hanya akan menjadi benalu. Mudah iri dengan orang lain. Mimpi-mimpi yang dibangun, tak sepadan dengan apa yang dia katakan.

Bisa jadi, menjelang hari H pemilihan, masih bingung apa yang harus dilakukan. Stoplah dulu nyaleg kalau seperti ini. Merepotkan.

2. Caleg Punya Ambisi dan Nyali Tapi Tak Bisa Menyugesti

Ada caleg yang memiliki nafsu dan keberanian. Ini sudah lumayan. Dua modal dasar sudah ditangan. Tapi belum lengkap untuk jadi pemenang. Salah satu syarat harus terpenuhi. Apa itu? Kemampuan menyugesti orang.

Menurut KBBI, sugesti adalah pendapat yang dikemukakan memiliki pengaruh yang dapat menggerakkan hati orang.

Nah, kalau caleg sudah memiliki kemampuan ini, bisa menjadi pertimbangan parpol untuk dicalonkan. Nantilah dulu apakah dia punya uang atau tidak. Dengan memadukan ambisi, nyali dan sugesti kemampuan dilapangan bisa dipertaruhkan.

Kombinasi ketiga sipat itu bisa memengaruhi ongkos politik lebih rendah. Setidaknya, misalkan, di basis-basis tertentu yang sudah memiliki pengaruh, ongkos politiknya bisa subsidi silang dengan daerah lain.

Namun, jika tak memiliki kemampuan menyugesti orang, amat rentan ‘dikhianati’. Baik oleh tim atau pemilih sendiri. Kenapa? Karena feelingnya tidak teruji.

Dia lebih percaya dengan tim yang belum tentu benar. Padahal, saat genting caleg harus good feeling. Kemampuan menyugesti harus semakin tinggi agar orang lebih percaya. Jadi nyali dan ambisi disini tidak cukup tanpa kemampuan menyugesti.

3. Caleg Punya Nyali, Ambisi dan Strategi

Ini barangkali kriteria ideal. Nyali, ambisi dan strategi menyatu dalam diri. Prosentase kepantasan untuk dipilih sangat besar. Meskipun harus mengalami dinamika cukup besar pula.

Lho mengapa? Karena bisa jadi strategi yang dibangun oleh caleg bersangkutan tak semua orang harus tahu. Atau khusus hanya orang-orang tertentu saja. Malah saking rapihnya membangun strategi, anak isterinya saja tidak diberikan bocoran hehe.

Tipe caleg seperti ini, tidak membuang waktu dengan obrolan tak bermutu. Dia lebih suka bergerilya mencari simpati masa. Melakukan doktrin agar masa jadi pemilih setia. Malah, gerakannya sangat senyap tapi mantap.

Dia bisa mengatur ritme. Kapan harus mundur. Kapan harus maju. Kapan menyerang agresif. Kapan pula defensif. Dia pintar memanfaatkan momentum. Tak peduli seperti apa kekuatan lawan. Dia selalu memiliki strategi baru untuk memertahankan.

4. Caleg Bernasib Baik

Untuk caleg bernasib semuanya selalu hoki. Dia seperti pasar kaget, Bisa jadi kualitasnya (mohon maaf) KW. Tapi tiba-tiba berhasil menjadi wakil rakyat.

Apakah caleg bernasib baik patut ditiru? Ini boleh percaya atau tidak. Seorang psikolog dari Inggris, Richard Wiseman, berhasil menyimpulkan karakter orang-orang beruntung dan bisa ditiru.

Wiseman melakukan penelitian soal orang yang beruntung dan tidak beruntung selama 10 tahun dengan mengumpulkan data 400 orang.

Separuh menyatakan selalu beruntung. Separuhnya lagi menyatakan selalu sial. Berdasarkan riset, orang-orang yang selalu beruntung (bernasih baik) karena hal-hal berikut:

  1. Terampil menciptakan dan melihat peluang bagus.
  2. Membuat keputusan beruntung karena mengikuti naluri.
  3. Menciptakan sugesti diri yang positif.
  4. Cenderung bersikap tabah sehingga nasib sial berubah menjadi baik.
  5. Menelaah pilihan hidup secara rasional sekaligus merasakannya. Perasaannya menjadi alarm dan berhati-hati mengambil keputusan.
  6. Selalu mencoba hal baru.
  7. Cenderung melihat sisi positif jika ada masalah.

Nah, jika Anda ingin menjadi caleg bernasib baik, cobalah membangun karakter itu dari sekarang.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *