76 Tahun Merdeka! Ini Fakta Perjuangan Para Pendiri Bangsa

  • Share
Foto : Pixabay

Sudah 76 tahun Indonesia merdeka. Sudah sepatutnya kita dan para politisi bersyukur atas kemerdekaan itu. Dulu, para pejuang bangsa bukan hanya berkorban tenaga dan pikiran. Nyawa pun mereka korbankan demi kemerdekaan Ibu Pertiwi.

Lalu, seperti apa dan bagaimana fakta-fakta detik-detik proklamasi kemerdekaan Indonesia 76 tahun lalu tersebut? Berikut ringkasannya yang dihimpun dari berbagai sumber:

1. Sayuti Melik Ngetik Teks Proklamasi

Orang yang mengetik teks proklamasi adalah Sayuti Melik. Kemudian dikenal sebagai teks proklamasi yang otentik.

Awalnya naskah tersebut ditulis oleh Soekarno. Dibantu Moh. Hatta dan Ahmad Soebardjo. Perumusan teks proklamasi disaksikan oleh Miyoshi, Soekarno, B.M. Diah dan Soediro.

Rumusan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia terdiri dari dua bagian pokok. Bagian pertama naskah merupakan saran dari Ahmad Soebarjo yang diambil dari rumusan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Sementara, bagian kedua merupakan buah pikiran Moh. Hatta.

Naskah teks proklamasi kemudian dibawa ke serambi depan rumah Maeda, anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Disana pemuka pemuda Indonesia sudah menunggu untuk musyawarah.

2. Perubahan Teks Proklamasi

Teks Proklamasi ditandatangani oleh Soekarno dan Moh. Hatta atas usulan Soekarni. Beberapa perubahan dalam teks proklamasi antara lain:

  • Kata ‘tempoh’ diubah menjadi ‘tempo’
  • Kata ‘wakil-wakil bangsa Indonesia’ diubah menjadi ‘Atas nama bangsa Indonesia’
  • Rumusan ‘Djakarta 17-8-05’ menjadi ‘Djakarta hari 17 boelan 8 tahoen ’05.”

Naskah teks proklamasi dibacakan pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 (sekarang jalan Proklamasi), Jakarta pada pukul 10.00 WIB.

3. Pembentukan BPUPKI

Pada 29 April 1945 diresmikan BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau dalam Bahasa Jepang disebut Dokuritsu Junbi Cosakai.

Didaulat sebagai ketua Dr. Radjiman Wedyodiningrat dan melakukan dua kali sidang. Sidang pertama pada 29 Mei-1 Juni 1945 menghasilkan rumusan tentang dasar negara Indonesia Pancasila yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo, Mr. Muh. Yamin, dan Ir. Soekarno.

Kemudian Sidang kedua dilakukan pada 10-14 Juli 1945 menghasilkan rumusan Undang-Undang Dasar lengkap dengan pembukaannya (preambule).

4. Berita Kekalahan Jepang

Pada 6 dan 9 Agustus 1945, terjadi pengeboman di Kota Hiroshima dan Nagasaki. Peristiwa tersebut mendorong Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu pada 15 Agustus 1945.

Berita kekalahan Jepang menyebar dengan cepat lewat radio dan didengar oleh tokoh-tokoh muda Indonesia. Bersama dengan Moh. Hatta, golongan muda ini lantas mengadakan rapat di Pegangsaan Timur yang dipimpin Chairul Saleh.

Hasil rapat tersebut menjadi dasar proklamasi Indonesia dan disampaikan kepada Bung Karno oleh Wikana dan Darwis. Setelah beberapa kali rapat, golongan muda memutuskan mengasingkan Bung Karno ke luar kota agar tidak mendapat pengaruh dari Jepang.

5. Soekarno Hatta Diasingkan ke Rengasdengklok

Bung Karno dan Bung Hatta diungsikan ke Rengasdengklok, Jawa Barat. Mereka dijemput pada 16 Agustus 1945 pukul 4.30 WIB oleh rombongan golongan muda.

Mereka diasingkan agar para pemuda bersabar dalam mengumumkan proklamasi. Sementara itu di Jakarta akan dilaksanakan rapat anggota PPKI di gedung Pejambon 2.

Ahmad Soebardjo mencari keberadaan Bung Karno dan Bung Hatta. Ahmad pun diberangkatkan ke Rengasdengklok untuk bertemu dan berunding dengan keduanya.

Soebardjo berjanji dengan jaminan nyawa kepada golongan muda, bahwa Proklamasi Kemerdekaan akan diumumkan keesokan harinya selambat-lambatnya pukul 12.00 WIB dengan jaminan Ir. Soekarno dan Moh. Hatta dilepaskan.

Dari Rengasdengklok, rombongan tiba kembali di Jakarta pukul 23.30 WIB. Bung Karno dan Bung Hatta memutuskan beristirahat sejanak di rumah masing-masing.

Setelah itu, Soekarno-Hatta pergi ke rumah Laksamana Tadashi Maeda. Walaupun orang Jepang, Laksamana memiliki kedekatan dengan tokoh-tokoh Indonesia dan memberi jaminan keselamatan.

Sebelum merumuskan naskah proklamasi, Soekarno-Hatta menemui Mayor Jendral Nishimura untuk menanyakan sikapnya mengenai Proklamasi Kemerdekaan.

Sayangnya, tidak ada kesepakatan dalam pertemuan tersebut karena Jepang yang sudah menyerah kepada sekutu. Akhirnya Soekarno-Hatta memutuskan melanjutkan pembuatan naskah proklamasi.

Setelah naskah Proklamasi dibacakan pada 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB di rumah Ir. Soekarno, Hatta berpesan kepada para pemuda yang bekerja di kantor pers, B.M. Diah untuk memperbanyak naskah teks proklamasi dan menyiarkan ke seluruh dunia.

6. Soekarno ‘Pipis’ di Pesawat

Dalam perjalanan pulang dari Dalat (Cipanasnya Saigon), Vietnam, 13 Agustus 1945, Soekarno, Bung Hatta, dr. Radjiman Wedyodiningrat, dan dr. Soeharto (dokter pribadi Bung Karno) menumpang pesawat fighter bomber.

Saat itu, Presiden Soekarno ingin sekali buang air kecil. Sayang, tidak ada toilet di dalam pesawat itu. Akhirnya, Soekarno melihat lubang-lubang kecil bekas tembakan di dinding pesawat.

Karena sudah tak tahan, ia pun terpaksa buang air kecil di lubang-lubang itu. Karena angin yang begitu kencang, air seni sang presiden berbalik ke dalam dan mengenai para penumpang di dalam pesawat itu.

7. Sebelum Baca Teks Proklamasi Soekarno Sakit

Pada 17 Agustus 1945 pukul 08.00, atau dua jam sebelum pembacaan teks Proklamasi, Bung Karno masih tidur nyenyak di kamar rumahnya, Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini.

Ia mengalami gejala malaria tertiana. Suhu badannya tinggi. Ia sangat lelah setelah begadang bersama para sahabatnya menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda.

Saat itu, tepat di tengah-tengah bulan puasa. Lalu pukul 09.00 pagi, Bung Karno terbangun. Berpakaian rapi putih-putih dan menemui sahabatnya, Bung Hatta. Tepat pukul 10.00, keduanya memroklamasikan kemerdekaan Indonesia dari serambi rumah.

8. Katrol Tiang Bendera Dari Gelas Bekas Sahur Moh. Hatta

Seremoni saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung sangat sederhana. Tanpa protocol. Tak ada paduan suara. Tiang bendera pun dibuat dari batang bambu secara kasar. Ditanam hanya beberapa menit menjelang upacara.

Bahkan konon, katrol tiang bendera dibuat dari gelas bekas sahur Moh. Hatta. Tetapi itulah, kenyataan yang terjadi dalam sebuah upacara yang dinanti-nanti selama lebih dari 300 tahun.

9. Naskah Asli Proklamasi Ditemukan Di Tempat Sampah

Naskah asli teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ditulis tangan oleh Bung Karno dan didikte oleh Bung Hatta, ternyata tidak pernah dimiliki dan disimpan oleh Pemerintah.

Naskah tersebut disimpan dengan baik oleh wartawan BM Diah. Ia menemukan draft Proklamasi itu di keranjang sampah di rumah Laksamana Maeda, 17 Agustus 1945 dini hari, setelah disalin, dan diketik oleh Sajuti Melik.

Pada 29 Mei 1992, Diah menyerahkan draft tersebut kepada Presiden Soeharto. Naskah tersebut dipegang Diah selama 46 tahun 9 bulan 19 hari.

Itulah 9 fakta pada saat detik-detik proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 semoga bisa menjadi referensi pengetahuan khususnya bagi poltiisi.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *