Novel “Sirkus Pohon” Mengritik Praktik Berpolitik

  • Share

Novel Sirkus Pohon menyindir praktik kotor politikus dan pemilihan kepala daerah termasuk janji-jani kampanye yang tak pernah ditepati.

Buku ini juga mengajarkan agar tidak terlalu cepat menilai orang lain, dan menutup kesempatan untuk berbuat baik.

Sirkus Pohon menurut sang penulisnya, Andrea Hirata, merupakan novel terbaik yang pernah ia buat. Buku tersebut memberi kesan apa yang ingin disampaikannya sebagai seorang penulis.

Andrea membutuhkan waktu lama untuk riset dan proses penulisan. Bahkan, dilakukan sampai ke Tahiti untuk riset pohon delima. Waktu yang dibutuhkan sampai empat tahun. Ditambah proses penulisan selama dua tahun.

“Buku yang ke-10 ini satu-satunya novel yang saya tulis paling lama, ini dua tahun lebih saya menulisnya. Kalau novel lain itu cepat. Saya nulis tidak perlu lebih dari sebulan, hanya dalam hitungan minggu; seminggu atau dua minggu,” katanya kepada CNN Indonesia.

Andrea mengaku, novel Sirkus Pohon memiliki tingkat kesulitan tinggi. Dibandingkan novel sebelumnya, gaya cerita novel ini menggunakan metode lebih sulit. Bukan lagi komparasi dan analogi seperti sebelumnya, melainkan sintetik.

Hal itu lah yang membuat Andrea butuh waktu dua tahun menghasilkan Sirkus Pohon agar dapat dengan mudah dipahami pembaca.

“Novel ini tidak bisa digambarkan dengan gamblang karena menulisnya dengan teknik sintesis. Maksud saya adalah ini sudah membandingkan hal-hal yang tidak berhubungan,” ujar Andrea.

Menariknya, Sirkus Pohon merupakan yang pertama mengangkat isu politik praktis, dibandingkan karyanya terdahulu, yang masih kuat mengangkat isu kemanusiaan, ketimpangan sosial, lokalitas, dan cerita cinta.

Cerita Novel Sirkus Pohon

Dikisahkan, seorang pemuda bernama Sobrinudin bin Sobrinudin. Dia anak keempat dari lima bersaudara. Semua kakaknya terbilang sukses. Bisa hidup dengan mapan. Sementara adiknya, Azizah, bersuamikan seorang lelaki yang lumayan pemalas.

Sobri mengenyam pendidikan sampai kelas 2 SMP. Itu semua dipengaruhi oleh pengaruh buruk Taripol, temannya, seorang ketua geng pencuri dan komplotan penipu sehingga berurusan dengan polisi.

Saat usia menginjak 28 tahun, Sobri belum juga menikah. Ia masih tinggal di rumah panggung milik ayahnya. Sobri bukan tidak mau Sobri mencari pekerjaan tetap. Akan tetapi, pekerjaan itu mensyaratkan harus memiliki ijazah SMA/sederajat.

Berbagai pekerjaan pernah dijalani. Mulai dari mendulang timah, kuli panggul pelabuhan, pengisi bak truk pasir, penebang pohon kelapa, penggali sumur, kerja serabutan di pasar, sampai menjual minuman ringan di Stadion Belantik.

Bukan Mental Peminta-Minta

Dulu ketika ayah Sobri bekerja menurunkan kopra dari perahu, juragannya pernah keliru membayar upah lebih Rp7.000. Saking jujurnya, dia menitipkan kelebihan upah itu kepada seorang nelayan untuk dikembalikan kepada juragan kopra.

Namun, sang juragan rupanya meninggal dunia. Nelayan tersebut akhirnya  mengembalikan uang kepada ayahnya. Merasa tak berhak, ayah Sobri terus mencari sanak saudara mantan juragan kopra. Setelah lebih dari sepuluh tahun, bertemulah dengan cucu juragan dan uang tersebut dikembalikan.

Kemiskinan juga tak menjadikan Ayah Sobri bermental peminta-minta. Kendati rumahnya reyot, ia menolak petugas dari kantor desa yang datang untuk menempelkan stiker “Rumah Tangga Miskin-Binaan Desa”. Dia berdalih, meski miskin masih memiliki penghasilan.

Perjalanan Hidup Berubah

Hidup Sobri berubah setelah menjadi badut sirkus keliling. Sirkus tersebut dikelola Ibu Bos, Ibu dari Tara, pemilik Sirkus Keliling. Sobri belajar banyak hal. “Bangun pagi, let’s go!” itulah salah satunya.

Sobri mempelajari dunia sirkus dan kegigihan Ibu Bos. Sebagai seorang janda, ketegaran dan kegigihannya dalam menjalankan sirkus dan mendidik anak semata wayangnya, Tara, membuat Sobri makin simpati.

Dari penghasilan sebagai badut, Sobri bisa memiliki rumah sendiri. Berani melamar Dinda, seorang perempuan penyuka delima. Namun, Dinda diserang penyakit aneh, terganggu jiwanya, sehingga pernikahan harus ditunda.

Seorang dukun sakti mengatakan, kelainan kekasihnya itu ada kaitannya dengan delima. Betapa murka dan marahnya Sobri.

Saat masa pemilihan kepala desa, pohon Delima yang dianggap terkutuk justru dianggap sebagai pohon keramat. Orang-orang meminta-minta agar keinginan terkabul. Mereka yang gila kekuasaan melakukan berbagai cara menguasai pohon delima itu.

Pohon Delima konon bisa mewujudkan keinginan orang-orang. Cukup dengan menuliskan keinginanatau menaruh foto di badan pohon delima. Kisah pemilihan Kepala Desa menjadi hal menarik. Ada penasihatnya, ada debatnya, hingga strategi kampanye yang unik.

Andrea Hirata berhasil mengambarkan soal politik melalui bentuk rayuan para politikus, janji-janji politisi sampai masa kampanye jadi ajang adu kemurahan hati.

Tidak bisa dipungkiri, cerita tentang politik dalam novel Sirkus Pohon terjadi di tengah masyarakat. Ini adalah sebuah pembelajaran berharga dan refleksi bagi masyarakat agar kritis memahami peristiwa politik.

JudulSirkus Pohon
PenulisAndrea Hirata
PenerbitBentang
TerbitAgustus 2017
Tebal410 halaman

Bagaimana kelanjutan kisah selanjutnya? Silahkan membaca novel Sirkus Pohon. Sangat menarik.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *