Memotret Politisi dalam Novel Ciuman Di Bawah Hujan

  • Share

Yukio Hatoyama, seorang Perdana Menteri Jepang mengatakan “politik itu cinta”. Dan bagi saya, Novel Ciuman Di Bawah Hujan menjawab itu dengan membingkai persoalan cinta dengan isu-isu politik dari sudut pandang penulisnya, Lang Fang.

Novel Ciuman Di Bawah Hujan awalnya merupakan cerita bersambung di Harian Kompas. Lan Fang berhasil mengemas segala keresahan, kegelisahan sekaligus kekhawatiran terhadap seorang politisi.

Sinopsis Novel Ciuman Dibawah Hujan

Novel ini mengisahkan pertemuan Fung Lin dengan seorang politisi bernama Ari. Lin saat itu harus menghadiri acara pertemuan dengan para TKW. Sedianya pertemuan itu dihadiri oleh pejabat. Fung Lin yang juga seorang jurnalis bertugas mewawancarai pejabat bersangkutan.

Namun, pejabat yang ditunggu tak juga datang. Sembari menunggu, bertemulah Ari yang kebetulan hadir dalam acara itu.

Perkenalan Fung Lin dengan Ari membawa kedekatan dirinya dengan seorang laki-laki bernama Rafi. Dalam perjalanannya, dua politisi muda itu, Ari dan Rafi, menaruh cinta. Sementara, Fung Lin memerhatikan dengan cara yang berbeda.

Dengan Ari, Fung Lin merasa bisa mengobrol dengan bebas. Sebaliknya, Ari membutuhkan Lin untuk menyadarkan dirinya bahwa masih menjadi manusia layak.

Pertemuan singkat dengan Raffi membuat hati Fung Lin bergetar. Padahal, ia sadar kepada siapa sedang jatuh cinta. Sekuat mungkin berusaha menegur dirinya sendiri.

Akan tetapi hatinya berkata lain. Semakin menekan perasaan, semakin besar rasa cintanya kepada politisi yang ‘pendiam’ dan kadang egois itu.

Rafi, sedikit kaku dan menjaga sikap. Dia tidak mau berbicara hal-hal yang tak perlu. Seperti itu pula sikapnya dalam politik.

“Menurutnya, mimpi tidak bisa diwujudkan hanya dengan bercakap-cakap. Walaupun bercakap-cakap di gedung ini adalah sebagian dari proses untuk mewujudkan mimpi. Tetapi mimpi di sini milik siapa? Mimpi orang-orang kecil atau mimpi para pemain politik?” (halaman 91)

Novel ini sebagai pelampiasan Lan Fang saat memotret perkembangan situasi politik pemilihan gubernur di Jawa Timur dan pemilu legislatif 2009.

Lan Fan mampu memerdekakan tokoh utama Fung Lin, seorang gadis Tionghoa yang berprofesi sebagai jurnalis. Fung Lin menantikan Rafi, seorang laki-laki yang akan menciumnya di bawah hujan. Disisi lain, ia juga menjalin persahabatan dengan anggota DPR lainnya, Ari.

Lan Fang menuliskan realitas politik cukup menohok mengenai buruknya perilaku dan kinerja anggota dewan lewat dialog-dialog antara Fung Ling, Rafi dan Ari. Lan Fang memang tidak membuat tokoh-tokoh dalam novelnya sebagai sosok sempurna.

Kendati, Rafi dan Ari adalah politikus muda idealis yang masih memiliki hati nurani. Namun, keduanya masih mencari pembenaran atas sikap-sikap mereka yang salah dimata Fung Ling.

Menurut Lang Fang, penguasa adalah mereka yang besar dan raksaksa. Sedangkan orang-orang (rakyat) itu kecil dan terpinggirkan. Penguasa adalah mereka yang selalu dipatuhi. Sedangkan orang-orang ini adalah mereka yang tidak pernah dilihat apalagi didengarkan. Maka hanya dengan kemarahanlah mereka bisa terlihat dan terdengar oleh penguasa.

Kemarahan berbeda dengan kekecewaan. Setiap hari mereka sudah menelan kekecewaan. Mereka sudah terbiasa mengubur kekecewaan dengan diam-diam. Tetapi bila kekecewaan itu bertumpuk terus menerus maka terbentuklah gunung kemarahan yang siap meledak. (hal 181).

Novel ini secara menghidangkan bacaan cerdas bagaimana melihat sosok politisi. Sah-sah saja menilai politisi dalam tafsir lain. Namun dalam novel ini, Lan Fang berhasil menyuarakan kekecewaan dan gugatan politik dari kacamata rakyat biasa.

Tokoh Utama Ciuman Dibawah Hujan

Dalam tulisan Nurul Hasanah bertajuk ”Emosionalitas Tokoh Utama dalam Novel Ciuman di Bawah Hujan Karya Lan Fang” dijelaskan, tokoh utama Fung Lin selalu berusaha mengikuti kemauan dan keinginan Rafi laki-laki yang sangat dia cintai.

Fung Lin merasa pemilihan gubernur penting untuk dirinya. Walapun tahu hal-hal yang berkaitan dengan politisi sangat dibenci.

Akan tetapi demi Rafi, ia rela mengikuti pemilihan gubernur dan rajin mengikuti berita seputar pencalonan tersebut. Meskipun merasa ingin muntah saat membacanya.

Emosionalitas kesedihan sering dirasakan Fung Lin dan tidak mampu keluar dari masa lalunya. Kendati sudah berusaha keras melupakan kenangan kelamnya itu, tetapi bayangan tersebut selalu hadir dalam ingatan.

Seperti kebakaran toko keluarganya. Lalu kenangan pahit perjalanan cintanya dengan Anto, seorang anak pejabat. Emosionalitas kebencian pada diri Fung Lin membuatnya benci dengan pejabat.

Makanya, kesedihan pun muncul ketika dirinya takut kehilangan Rafi dan termakan kejamnya dunia politik. Apalagi, terlalu cepat dirinya jatuh cinta kepada seorang anggota dewan seperti dirinya.

Kebakaran toko keluarganya merupakan penyebab bagaimana buruknya dunia politik pada masa itu dan menjadi pemicu utama kenapa Fung Lin membenci politik.

Alur Cerita Ciuman Dibawah Hujan

Alur cerita novel dalam ulasan yang ditulis ‘Blog Buku yang Kubaca’ terlihat maju mundur. Berbagai simbol banyak digunakan menggambarkan dunia politik. Seperti penggambaran tikus besar dan kecil yang saling menindas satu sama lain.

Atau gambaran hadirnya hamster yang melahirkan 44 anak, namun seluruh anaknya dimakan oleh induknya sendiri. Demi melihat peristiwa menjijikkan itu, membuat Fung Lin memutuskan mememberikan umpan kedua induk hamster tersebut ke kandang harimau.

“Aku tidak mau ada orang yang memakanmu seperti itu. Aku juga tidak mau kau memakan orang lain. Karena politisi akan selalu saling memakan. Raf, aku tidak suka kau menjadi politisi” (halaman 351)

Lan Fang juga menggunakan diksi memikat. Ungkapan tersembunyi sarat makna terlihat dalam melihat kegelisahan Rafi melihat dunia politik.

“Kalau saja ia memiliki keberanian untuk jujur, ia akan mengatakan bahwa sebenarnya ia juga memiliki ketakutan yang sama. Karena menjadi politisi tidak seindah yang tampak dari luar. Tetapi juga tidak mudah untuk keluar dari lingkarannya.” (halaman 351).

Tentang Penulis

Lang Fang lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 5 Maret 1970. Selain menulis novel Ciuman di Bawah Hujan (2010), beberapa novel yang diterbitkan antara lain: Reinkarnasi (2003), Pai Yin (2004) dan Kembang Gunung Purei (2005).

Kemudian pada 2006 menulis Laki-Laki yang Salah, Yang Liu (2006) dan Perempuan Kembang Jepun. Dilanjutkan pada 2007 menerbitkan Kota Tanpa Kelamin dan Lelakon.

Lan Fang tutup usia di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura pada 25 Desember 2011. Semasa hidupnya, Lang Fang yang juga pernah masuk nomine Khatulistiwa Award 2008 ini, aktif membimbing para pelajar dalam sejumlah penulisan kreatif.

Secara rutin, Lang Fang kemampuan menulis fiksinya ditularkan kepada pelajar di sejumlah sekolah di Surabaya.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *