Tradisi Setengah Hati PAN Memilih Oposisi Atau Koalisi

  • Share

Partai Amanat Nasional (PAN) hadir di Istana Negara bersama partai politik koalisi pendukung Jokowi pada 25 Agustus 2021.

Media ramai membicarakan dan mengupas langkah politik PAN yang hadir bersama partai pendukung pemerintah itu. Kehadiran Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dan Sekretaris Jenderal PAN Eddy Soeparno memancing reaksi pengamat politik untuk berpendapat.

Ada yang menyebut PAN sudah ‘bertobat’ dari oposisi dan kembali ke pelukan koalisi. Ada juga yang mengatakan, itu hanya sebagai tanda simbol kemesraan partai berlambang matahari itu dengan koalisi Indonesia Bersatu seperti PDI Perjuangan, Gerindra, Golkar, PKB, Nasdem, dan PPP.

Apakah PAN Oposisi Atau Pro Jokowi?

a. Tradisi Sikap Setengah Hati

Dalam dunia politik, oposisi bisa diartikan partai penentang dan mengkritik pendapat atau kebijaksanaan politik golongan yang berkuasa.

Menurut hematku, apa yang sedang diperagakan PAN saat ini merupakan langkah setengah hati (lagi). Atau katakanlah ini jurus terakhir meskipun terpaksa demi memperbaiki citra politik menjelang Pemilu 2024.

Apalagi PAN, menurut hematku, tidak ditakdirkan untuk lahir menjadi partai oposisi. Pada saat Pemerintahan SBY-Boediono, Ketua Umum PAN Hatta Rajasa secara terang-terangan mendukung pemerintahan sampai akhir masa jabatan.

Dalam pidato politiknya saat Rakernas PAN pada 10 Desember 2011, Hatta Rajasa menegaskan komitmennya untuk mendukung pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono hingga akhir masa jabatan.

Kalau pun PAN sering kehilangan arah, kadang-kadang masuk koalisi pemerintahan dan kadang-kadang oposisi setengah hati, itu bisa aku katakan sudah menjadi tradisi di PAN besutan Amien Rais tersebut.

Salah satu contoh pada 17 September 2004. Saat itu Sekretaris Jenderal PAN Hatta Rajasa terlihat hadir dalam pertemuan dengan partai pendukung Pemerintahan SBY-Jusuf Kalla di Board Room Hotel Four Seasons, Jl. HR Rasuna Said, Jakarta Selatan.

Padahal, belum lama PAN menyatakan secara resmi netral dalam arti tidak oposisi dan juga masuk dalam koalisi parpol pendukung SBY-JK seperti Partai Demokrat, Partai PKPI, PBB, PKS, PSI, PIB dan PKB.

“Kehadiran Hatta Rajasa jelas merupakan dukungan PAN. Ini kan rapat confidential. Tidak mungkin beliau diizinkan hadir kalau tidak memberi dukungan,” kata Wakil Presiden Jusuf Kalla saat itu.

Jika merujuk penjalasan diatas, kehadiran PAN bersama partai politik koalisi pendukung Jokowi—Maruf Amin pada 25 Agustus lalu, semata-mata ingin mencari keuntungan dari silaturahmi politik tersebut guna memperbaiki citra partai agar terdongkrak dengan kinerja baik yang didulang Pemerintahan Jokowi.

Sederhana saja. Merujuk hasil survei sampai Agustus 2021, tingkat kepuasan terhadap pemerintahan Jokowi selama masa pandemi angkanya masih tinggi dibandingkan dengan yang tidak puas. (lihat tabel)

NomorLembaga SurveiProsentase Kepuasan
1Indostrategic60,4%
2SMRC75,6%
3Puspoll Indonesia71,4%
4Charta Politika62,4%
5LP3ES52,8%
6Indikator Politik60%
7LSI59,6%
Berbagai Sumber

Kondisi tersebut, direspon oleh PAN dengan mengambil sikap untuk merapat (meskipun bukan koalisi permanen) guna meningkatkan komunikasi politik dengan partai politik pendukung pemerintah.

Apalagi, dalam survei terbaru pada Agustus 2021, elektabilitas PAN masih sangat rendah dalam kisaran 2,2 % yang bisa dibaca selengkapnya dalam artikel berjudul: Hasil Survei Indikator Agustus 2021 Terhadap Elektabilitas Capres dan Parpol.

b. Kendati Oposisi Dapat Jatah Menteri

PAN sendiri termasuk partai yang masih beruntung. Presiden Jokowi sempat memberikan jatah menteri meskipun saat itu PAN belum menyatakan resmi masuk koalisi dengan dilantiknya Asman Abnur sebagai Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) pada 27 Juli 2016.

Namun sayang,  Asman Abnur mengundurkan diri pada 14 Agustus 2018 sebelum Jokowi melakukan reshuffle kabinet.

“Kami hormati dan apresiasi sikap ksatria Pak Asman yang telah menyampaikan pengunduran dirinya kepada Presiden hari ini,” Kata Sekjen PAN kata Eddy Soeparno pada 14 Agustus 2018.

Sejak ‘dicopotnya’ Asman dari kursi kabinet, PAN seolah benar ingin oposisi dan sempat mengritik beberapa kebijakan pemerintahan Jokowi. Namun, rupanya itu menjadi strategi PAN untuk menaikan daya tawar di pemerintahan.

Kronologis PAN Antara Oposisi dan Koalisi

23 Agustus 2019

Zulkifli Hasan menyebut koalisi partai politik yang mendukung pemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Amin sudah kuat. Sehingga partainya mendukung jalannya pemerintahan ke depan.

“Saya sampaikan kepada Pak Amien Rais bahwa banyak kader PAN yang ingin sebagai oposisi. Saya bilang di koalisi Jokowi-Ma’ruf sudah jelas. Mereka sudah kuat dan cukup. Karena itu, PAN mendukung saja,” ucap Zulkifli.

23 Agustus 2019

Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais mengaku telah dibisiki Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan kalau PAN tidak akan masuk dalam kabinet periode kedua Presiden Joko Widodo.

“Tadi saya dibisiki bapak ketum bahwa nanti PAN tidak ikut dalam kabinet yang akan datang,” kata Amien dalam Milad PAN ke-21 di kolong tol jembatan tiga, Pluit, Jakarta Utara, Jumat (23/8).

Maka itu, Amien menyebut PAN akan berada di luar pemerintahan. Namun, PAN akan memberikan koreksi serta dukungan kepada pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin.

“Jadi Insya Allah kita di luar akan berikan masukan kritik koreksi kalau keliru tapi juga dorongan dan support kalau jalannya benar,” kata dia.

23 Oktober 2019

Wakil Ketua Umum PAN Hanafi Rais mengatakan partainya mantap berada di luar pemerintahan. PAN tidak masuk dalam Kabinet Indonesia Maju.

Hanafi mengatakan PAN ingin mengawal janji-janji pemerintahan Joko Widodo terlaksana dengan baik. PAN juga akan memosisikan diri sebagai pengawas jalannya pemerintahan.

8 Februari 2020

Wakil Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional atau PAN, Drajad Wibowo, menyatakan akan membawa partai ini menjadi oposisi bila terpilih menjadi ketua umum 2020-2025.

“Malu lah kalau minta jabatan di dalam. Teman-teman yang mendukung Pak Jokowi lebih berhak untuk membantu beliau di pemerintahan,” kata Drajad di DPP PAN, Jalan Daksa I, Kebayoran Baru, Jakarta.

Ia mengatakan di luar pemerintahan bukan berarti tidak membantu presiden. PAN akan membantu presiden menegakkan demokrasi dan PAN di bawah kepemimpinannya menjadi komponen utama di luar pemerintahan Jokowi.

12 Februari 2020

Setelah terpilih pada kongres V di Kendari, pada 11 Februari 2020, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan menegaskan partai berlambang matahari terbit itu akan merugi jika bergabung dalam barisan partai oposisi.

“Oposisi tagline-nya sudah diambil PKS. Kalau kita masuk, isu oposisi akan sangat merugikan kita,” tutur Zulkifli di Hotel Claro, Kendari, Sulawesi Barat.

6 Juni 2020

Politikus PAN Putra Jaya Husin menyatakan, PAN saat ini cenderung konformitas terhadap kekuasaan. Dia juga menyebut mayoritas kader PAN sebenarnya lebih menginginkan menjadi pihak oposisi.

Menurutnya PAN bisa menjadi tempat tidak baik bagi para kadernya karena memiliki sikap yang berbeda. Dia juga mengkritik Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I PAN yang seolah para elite memaksakan kehendaknya kepada para kader.

21 Juli 2020

Pendiri PAN Amien Rais mengaku telah dikeluarkan dari PAN dikarenakan tidak setuju PAN bergabung dengan pemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Hal tersebut diungkapkannya dalam sebuah video yang diunggah di akun Youtube, @aguzbe official, Selasa, 21 Juli 2020.

“Saya sudah tidak di PAN lagi. Saya sudah dikeluarkan sama anak buah saya karena saya tidak setuju dengan rezim yang sudah tidak ketulungan itu. Sementara, mereka tetap yakin bahwa bergabung rezim Jokowi akan dapat logistik, akan dapat segala macam,” ujar Amien.

28 Agustus 2021

Ketua Majelis Syuro Partai Ummat Amien Rais menduga bergabungnya Partai Amanat Nasional (PAN) ke dalam koalisi Presiden Joko Widodo (Jokowi)- KH Ma’ruf Amin untuk memuluskan langkah rencana amendemen UUD 1945.

“Yang saya lihat, tidak, tidak saya tidak ingin, tapi kemudian bisa menerka kalau misalnya kemudian 80 atau 90% anggota MPR mengatakan perlu periode ke 3 ya kemudian thats it. Kita sekali lagi seperti terbengong-bengong,” kata Amien Rais di Kantor DPP Partai Ummat, Tebet, Jakarta Selatan.

Semoga artikel temangopi.com berjudul “Tradisi Setengah Hati PAN Memilih Oposisi Atau Koalisi” bermanfaat.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *