Cara Menguji Kekuatan Imajinasi Politisi

  • Share
Foto : Pixabay

Begitu seseorang berkuasa atas diri saya, saya berkepentingan untuk mengetahui watak dan kualitas imajinasinya, sebab mimpi-mimpinya bisa menjadi mimpi buruk bagi saya,” (Penulis Novel Life of Pi).

Menurut Wikipedia, imajinasi adalah daya pikir untuk membayangkan atau menciptakan gambar kejadian berdasarkan kenyataan atau pengalaman seseorang secara umum.

Ungkapan Martel diatas, erat kaitannya dengan sosok seorang politisi yang tidak pernah membaca buku. Dan aku kira, kekhawatiran Martel bisa dijadikan alat untuk memotret sebagian besar politisi di negeri ini.

Amat lumrah kita melihat para politikus memegang gadget. Tapi amat jarang memegang buku. Potret itu menjadi fakta menyedihkan. Bagaimana literasi seorang politisi kalah gairah dengan bermain tik tok dan  berjoget di ranah maya.

Hampir tidak pernah menemukan di media sosial seorang pejabat publik atau tokoh politik bangga bicara buku yang sudah ia baca. Selain ucapan Hari Buku Nasional setiap tanggal 17 Mei.

Caranya Belajar Dari Yann Martel

Yann Martel adalah penulis novel Life of Pi yang difilmkan oleh sutradara Ang Lee sampai meraih Piala Oscar. Dia berani menguji imajinasi pemimpin Negaranya.

Selama hampir tiga tahun, dirinya tak bosan mengirimkan novel, kumpulan puisi, maupun drama kepada Stephen Harper, Perdana Menteri Kanada. Namun, tak pernah satu kalipun Harper membalasnya.

Karena tak berbalas, Martel menerbitkan surat-surat yang dikirimkan kepada Harper menjadi sebuah buku berjudul “101 Letters to a Prime Minister”.

“Saya mengirim 101 buku kepadanya, dan ia tidak menulis satu surat pun kepadaku,” kata Martel.

Bahkan, pujian datang dari Presiden AS Barack Obama setelah membaca karyanya, Life of Pi. Obama menulis surat dengan tulisan tangan kepadanya dan mengakui, “Life of Pi adalah bukti elegan keberadaan Tuhan dan kekuatan bercerita.”

Martel meyakini, pemimpin dunia yang tidak membaca, atau tidak ingin mengetahui tentang orang lain akan punya visi yang membutakan. Fiksi adalah cara terbaik untuk mengeksplorasi yang lain,” katanya.

Kekuatan Buku Bagi Politisi

Buku tak mengenal ruang dan waktu. Buku yang menyulam zaman keabadian. Buku pula yang mengingatkan kapan cinta itu datang dan kapan kita tiba dalam peristirahatan paling kekal.

Lihatlah peradaban yang abadi selalu dimulai dengan bacaan. Peradaban Yunani dimulai dari ‘Iliad’ Karya Homer sampai dengan Kitab Perjanjian Baru. Peradaban Eropa dimulai dari Karya Newton sampai Filsafat Hegel.

Peradaban Islam yakni Al-Quran yang di wahyukan kepada Nabi Muhammad SAW selamanya tetap abadi. Sampai kita diperintahkan untuk membaca melalui perintah “Iqro’ bismirobbikalladzii kholaq”.

Jika seorang politisi tak pernah membaca buku, minimal buku perundang-undangan, bagaimana dia bisa memperjuangkan rakyatnya? Atau peduli dengan apa yang seharusnya mereka perjuangkan sebagai pejabat publik? Atau seberapa bagus imajinasinya membangun budaya politik yang baik?

Sudahkah Anda menguji imajinasi politisi hari ini?

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *